Hafizh Qur'an Tapi Maksiat?
oleh https://www.instagram.com/edgarhamas/

Kemarin di seminar, ada peserta yang curhat, "bang, saya punya teman hafizh Qur'an tapi sukanya ngoleksi akhwat, gimana tuh bang?"

"Pertama, jangan cari sempurna dari muslim. Carilah dari Islam, maka kamu takkan pernah kecewa."

Kedua, saya selalu bilang ke teman-teman, kalo lihat orang berilmu tapi maksiat, jangan sampe bilang, "yang hafizh aja kaya gitu, apalagi gue."

Itu namanya menutup pintu keberkahan sejak dalam pikiran. Yakin bahwa, yang namanya hidayah itu, Allah yang punya.

Ketiga, saya bilang sama dia sebuah kaidah yang terkenal di antara ulama,

yang artinya, : Siapa yang bertambah ilmu tapi tak bertambah petunjuk baginya, Allah tak akan tambahkan kecuali bertambah jauh dari-Nya.

Ini adalah teguran keras. Syaikh Ahmad Mashri bilang pada saya suatu hari, "penuntut ilmu agama itu amanahnya sangat berat di hadapan Allah & di depan manusia."

kenapa?

"Ketika dia mengilmu, manusia akan lihat dia. Jika ia berbuat salah sekali, yang disalahkan adalah agamanya."

Seorang hafizh Qur'an 30 juz, tidak menjamin dirinya akan jadi orang shalih. Al Qur'an memang tercopy-paste di memorinya, namun bukan berarti sudah terinstall. Itulah mengapa, teman-teman jika menemukan kasus serupa, jangan salahkan "hafalannya." Hafalan Qur'an samasekali bukan masalahnya. Problemnya adalah "akhlaq" pribadi itu.

maka =, ini PR besar untuk penghafal Qur'an. "Menjaga hafalan bukan hanya dengan murajaah. tapi dengan akhlak dan adab."

Sebenarnya problem seperti ini hanyalah ulah oknum yang jumlahnya sangat-sangat sedikit. Betapa banyak penghafal Al-Qur'an yang menjadi teladan bagi umatnya. Betapa banyak penjaga ayat-ayat Allah yang hidupnya menggambarkan keindahan Al-Qur'an. Kita saya yang lebih sering mencari kesalahan dari pada kebaikan. Sebuah kebiasaan buruk yang tidak patut dilestarikan.

Maka saya ingat perkataan sahabar saya, Ismail Shodiq, ketika diwawancarai oleh kru majalah tentang cara menghafal Qur'an, dia bilang,"kalau memang dari awal niatnya salah dalam menghafal, lebih baik tidak usah menghafal."

"Tanggungjawabnya besar di hadapan Allah."

Setelah itu Ismail bilang pada saya, "gar, ane takut ketika orang baca wawancara ini, mereka jadi takut menghafal Al-Qur'an."

Saya jawab, "selain motivasi dalam menghafalnya, orang juga perlu rambu supaya hati-hati. Salah niat kan akibatnya besar."

Bagi teman-teman, tetap semangat mentadabburi, membaca dan menghafal Al-Qur'an. Namun jangan pernah kita kira akan selesai semuanya dengan hafalan.

Ujung di depannya adalah, bagaimana Al-Qur'an itu bisa jadi obat bagi bangsa kita. "Membumikan Al-Qur'an, melangitkan manusia."

Analogi ini sangat bagus. "ada orang yang siang-malam menghafal resep obat dokter sampai lancar di luar kepala. Tapi resep dokter ini hanya dihafal tanpa dibeli obat yang ditulis di resep itu.

Bagaimana menurutmu?


#Selfreminder