Jangan Asal-Asalan, Mas

15 April kemarin, aku dan teman-teman se-bimbingan tugas akhir berkonsultasi dengan dosen pembimbing mengenai tugas akhir mahasiswa semester ini. Salah satu nya berdiskusi dan memaparkan latar belakang judul yang akan di angkat dalam tugas akhir.

Secara bergantian aku dan teman-teman mulai memaparkan latar belakang dan kosep yang akan di bahas dalam judul tugas akhir. Semua menceritakan tentang judul tugas akhirnya. Mulai dari latar belakang, konsep, metode bahkan curhat keluh kesah mereka mengenai tugas akhir ini di tengah-tengah pandemic kovid-19 ini. Alhasil tak terasa konsultasipun berjalan dengan menghabiskan waktu 2 jam lamanya.

Ya mungkin ini hal wajar sebagai mahasiswa tingkat akhir ditengah-tengah kondisi saat ini, mengingat juga beliau mempunyai anak bimbingan yang sangat banyak. Konsultasi inipun sangat di manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Namun dibalik konsultasi ini, ada pembelajaran positif yang bermakna.

Sebelumnya yang akan konsultasi diminta untuk mengirimkan surat kendali yang sudah dikirim dan dikerjakan oleh teman waktu itu, dan beliau meminta untuk mengirim ke email beliau. Awalpun semua berjalan sesuai amannya, namun Ketika beliau hendak mengisi di surat kendali tidak dapat mengisinya. Seketika itu beliau memarahi dan meminta untuk di buatkan terlebih dahulu. Hal ini membuat konsultasi terhenti sejenak.

10 menit berlalu, surat kendali yang barupun sudah jadi dan mulai di bagikan ke teman-teman, namun kali ini Ketika aku membukanya terlihat ada yang berbeda dari biasanya. Yap ternyata dugaanku benar dan saat itu juga beliau memarahi kami untuk kedua kalinya. Kami hanya bisa meminta maaf dan tak tega beliaupun langsung membuat sendiri. Meski begitu sungguh berani dan luar biasa temanku dalam mengambil tugas itu.
Kami tak bisa apa-apa karena memang ini salah kami dan dalam hati merasa kasihan dengan beliau, dan membuat takjub dengan kerja etos beliau yang penuh kehati-hatian dan mengedepankan kesopanan dan ketelitian dalam kerja.

“Rek, itu sudah aku kirim, coba bandingkan dengan kerjaan kalian!” ujur beliau.
“iya pak beda, iya pak beda, kerjaan bapak lebih rapi” ujur teman-teman saat itu.
“Mahasiswa sekarang pengennya langsung jadi cepet kelar, rek biasakan kerja jangan asal-asalan karena Ketika dibaca orang lain, itu adalah wajah kita kalua buatnya berantakan, ya berarti kita wajah berantakan, gabecus, asal-asalan. Hal ini ini tidak akan bisa kerja dengan saya , makanya saya itu sangat dipercaya oleh pemerintah-pemerintah dalam memegang proyeknya.” Ujur beliau saat itu dan seketika membuat aku jleb sedalam-dalamnya dengan nasihat beliau. Setelah itupun beliau berpesan agar kejadian ini tidak terulang lagi dan dimanapun.

            Benar kata dosen pembimbing ku, itu yang belum saya latif. Tentang kerja maksimal tidak asal-asalan. Beliau menyadarkan tentang makna kerja maksimal dan tentang makna keikhlasn kerja. Khususnya bagi saya dan kamu yang selalu menentang sisi negatif dan menyalahkan orang lain, padahal belum tentu dia salah namun kesalahan itu  terdapat pada diri kita yang kita tidak ingin menyadarinya dan selama ini mungkin sebagian dari kita ketika diminta mengerjakan sesuatu  dengan ikhlas akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan kalua bisa sampai tidak ada kesalahan sama sekali, namun juga da dari kita Ketika melakukan sesuatu tidak dilaksanakan dengan semaksimal mungkin dan terkesan terpaksa dan setengah-setengah, padahal Ketika kamu melakukannya baik setengah ikhlas atau penuh ikhlasan kamu akan tetep melaksanakannya, lantas kenapa kamu tidak melaksanakannya dengan maksimal dan penuh keikhlasan saja!

Dan rasa kepercayaan orang lain  tidak akan bisa muncul dengan sendirinya jikalau  kamu yang bukan memunculkannya,kepercayaan akan muncul ketika kamu melakukan suatu hal dengan maksimal, teliti dan rapi sehingga akan membuat orang lain puas dengan hasil pencapaianmu dan membuat orang lain akan Kembali kepadamu dengan kerja etos yang telah kamu bangun.

            Bahagia itu sederhana kok , kerja maksimal, doa maksimal legapun datang maksimal
Lantas sudahkah kamu seperti itu! Yuk!

Wallahu A’lam bissowab

                                                                                                            Magetan, 16 April 2020


                                                                                                                        Mirza Afrizal