“Orang
tuaku tuh ya, suka banget nyuruh-nyuruh, padahal aku lagi capek”
“Di
saat orang tuaku marah, terkadang aku juga ikut emosi karena di marahin mulu”
“Orang
tuaku tuh minta aku harus jadi ini jadi itu hmmm berat banget deh”
Pernah
mengucap atau terlintas dalam pikiran tentang hal itu! Kalau aku jelas pernah. Nggak
sadar sudah berapa banyak hal itu keluar atau terpikirkan dalam pikiran dari
dulu sampai sekarang. Tapi pernahkah terlintas dalam fikiran kita kalau
ternyata hal itu baik buat kita dan kita baru menyadarinya ketika kehilangan
salah satu dari mereka? Aku si pernah
Waktu
itu baru ku sadari ketika kehilangan salah satu dari orang tuaku.
Akibatnya nggak jarang aku selalu merenungi peristiwa ketika kehilangan salah
satu dari mereka ;
Kala
itu dini hari, kuterbangun ketika bapak mau pergi ke Surabaya katanya mau beli
obat buat Ibu, namun sebelum itu beliau berpesan ;
“Za,
perasaan bapak nggak enak. Nanti kalau terjadi apa-apa tentang ibu, tolong
langsung telfon ya!”
Hatiku
bergetar dan takut , “Iya Pak siap.” Jawabku dengan cepat. Meskipun rasanya
aneh, ketika pesan itu datang padahal waktu masih pagi.
Setelah
Beliau berangkat, singkat cerita aku
bergegas untuk persiapan sholat subuh. Seperti biasa habis sholat subuh aku
lanjutkan dengan mengaji dll. Bagiku pagi itu berjalan dengan lancar. Namun
ketika Jam menunjukkan pukul 6 aku segera
bergegas mandi untuk persiapan berangkat sekolah, saat mandi tiba-tiba ada
suara yang memanggilku. “Mas Mirza Ibu, Mas.” Teriak Pembantu rumah. Seketika
itu aku langsung keluar dari kamar mandi dan langsung menemui ibu dan pembantu
rumah.
“Kenapa
Mbak?.” Tanyaku dengan heran dan penasaran ke pembantu “Dari tadi ibu diam aja mas
aku takut.” Kata pembantu rumah dengan rasa ketakutan.
Bergegas
langsung aku cek denyut nadinya sembari aku mengatakan “Mbak ini Ibu kenapa? Mbak
ini Ibu kenapa?” Kataku dengan nada bingung. “Nggak tahu mas,dari tadi Ibu diam
saja.” Kuputuskan untuk memanggil tetangga dan ketua RT untuk memerika ibuku. Beberapa
menit kemudian yang kutakuti ternyata
benar bahwa beliau sudah meninggal.
Ketika
tahu ibu telah meninggal, aku terikat pesan bapak kalau ada apa-apa tentang ibu
langsung telfon bapak, maka kuputuskan untuk segera menelfon bapak yang sedang
menuju Surabaya untuk membeli obat buat ibu.
“Pak, Ibu Pak Ibu” Suaraku dengan
tersendak-sendak
“Ibu
kenapa Za?” Tanya Bapakku dengan cemas.
“Ibu
meninggal Pak”
“Innalillahi
Wainna Ilaihi Roji’un, Ini Bapak sampai Jombang habis ini langsung turun dan
langsung balik rumah.” Ucap Bapakku dengan nada kaget dan sedih.
Setelah
itu ketua RT menyarankanku agar segera
telfon kakek dan nenek untuk segera datang ke rumah namun aku bingung kata-kata
apa yang harusku ucapkan. Ketua RT bilang “Bilang aja ke mereka bahwa ibu
penyakitnya kambuh dan kakek dan nenek harus segera ke sini dan jangan bilang
jujur kalau ibu sudah meninggal karena takutnya langsung down.” Segeraku telfon
mereka.
“
Mbah, cepet ke sini ibu sakitnya kambuh lagi. Cepet Mbah.” Kataku dengan
mendesak agar mereka segara datang. Aku terdiam lesu dan berpikir tidak bisa berbuat
apa-apa lagi, hanya 1 yang bisa kulakukan yaitu melantunkan surat yasin di samping
ibu.
Suasana
itu pecah ketika kakek dan nenek sudah datang. Aku keluar rumah menjemput
mereka, kakek dan nenek Lari dari Mobil ke rumah duka dan mereka terkejut karena rumah sangat ramai dan
mengetahui bahwa anak perempuan satu-satunya dari 7 bersaudara telah dipanggil Allah SWT.
Beberapa
waktu kemudian bapak sampai di rumah dan aku melihat bapak menangis dan kehilangan
istri yang dicintainya. Hatiku begetar melihat suasana haru di rumah. Banyak
yang menahan sedih dan merasa kehilangan.
Qadarallah,
ibuku telah duluan menemui Allah sebelum
melihat kata maaf untuknya terucap dari lisanku. Kalau saja waktu bisa kembali,
rasanya ingin sekali menunjukkan sikap yang terbaik bagi ibu. Menaati
perintahnya, berkata yang baik dan menjadi anak yang sholeh.
Ternyata
benar perkataan orang bahwa “Pelajaran itu tempatnya diakhir.” Hal ini benar
aku rasakan ketika waktu tak bisa kembali lagi seperti dahulu kala. Awalnya biasa
saja dan bahkan tak peduli namun hasilnya meninggalkan suatu pelajaran yang
luar biasa.
Mungkin
benar, terkadang orang tua itu terkesan mengatur kehidupan yang kita lakukan.
Seringkali kita beranggapan hal itu sangat menggangu kita dan menjadi beban
bagi kita. Namun bukankah mereka yang menjaga kita dari bayi yang belum bisa
apa-apa? yang merepotkan kita saat mereka tidur nyeyak terbangun oleh jeritan
tangis kita? Apakah ada orang yang bisa melakukan buat kalian lebih dari itu?
Bukan
orang tua yang menjaga kita, tapi kita yang tidak menjaga orang tua. Bukan
mereka yang tidak mau melakukan untuk kita, tapi kita yang tidak bisa melakukan
untuk orang tua.
Semua
tindakan dan sikap mereka ada dasarnya dari hati yang penuh dengan kasih
sayang. Tentang kasih yang ingin mereka berikan untuk anaknya , tentang sayang
yang ingin mereka berikan untuk buah hatinya . Yang mereka ingin tanamkan dalam nyawa anaknya dengan sebaik-baiknya.
Di
dalam hati mereka tertanam pesan Allah bahwa anak adalah karunia Allah yang harus
dijaga dengan sebaik-baiknya dan mereka tau mana yang terbaik untuk anaknya
agar berada di level tertinggi dalam hidupnya.
Saatnya
percaya bahwa ridho Allah itu ridho orang tua, dan surga berada di bawah
telapak kaki ibu. Walau terkadang tak sejalan dengan apa yang kamu inginkan,
cobalah untuk menuruti dan memahami kemauannya. Niscaya yang tadinya ragu namun
atas ridho orang tua semua akan menjadi luar biasa.

0 Komentar