Saat aku menuliskan ini, aku berkeinginan untuk mengabadikan momen ini berserta keinginan pergi ke tempat yang bernama “Pantai”.

Kenapa pantai?

Coba deh siapa si yang engga tau pantai,
siapa si yang engga ada hasrat main kesana,
siapa si yang engga suka dengan suasananya yang begitu menenangkan.

Yang menjadi salah satu tempat bagi kita melepas beban hirup pikut dunia, terkadang juga tempat melepas fikiran ketika penat datang.
Hampir semua  orang tau akan hal itu, begitu juga dengan aku, 

Alhamdulillah kali ini masih bisa pergi ke sana untuk melepas nafas, menghirup udara segar pantai, mendengar deburan ombak menghempas karang, asin nya air laut, putihnya pasir, angin sepoy-sepoy, anak-anak riang gembira bermain, berfoto dan pemandangan yang indahnya.

Maka, 
Ketika rasa menjadi bergejolak ingin ke sana dengan gelora api, hari demi hari kusiapkan mulai menentukan tanggal pemberangkatan, dinamika dalam menentukan tanggal selalu ada, antara pasti atau engga namun kembali lagi karena rasa dan hasrat yang begitu kuat membuat pemberangkatan ini menjadi hal pasti bukan hanya sebuah wacana. Alhasil hari yang ditunggu-tunggu tiba saatnya berangkat di hari Ahad 27 September 2020.

Tanpa kuasa kami, ujianpun datang 1 hari sebelum keberangkatan ada rasa keraguan untuk berangkat. Yapsss, rasa keraguan yang seketika muncul dengan sebab, memang sebelum itu aku mendapatkan berita dari temanku mengenai kondisi di pantai, disebutkan dalam berita itu bahwa Malang berpotensi diterjang tsunami setinggi 20, meter, sontak hal itu membuat keraguan hati tiba.

Keraguan untuk berangkatpun tiba, anatara hati dan fikiran tak berjalan seiringan. Hati berkeinginan ke pantai sedangkan fikiran mengarah penolakan hati untuk tidak berangkat. Hal ini yang membuat ku harus menentukan mana yang menjadi keputusanku. Seketika itu teringat dengan niat yang begitu kuat maju tanpa mundur untuk teteap melangkah kedepan menuju keinginan kuat. Akhirnya karena niat ini begitu kuat maka tetap kuputuskan untuk pergi. Yapsss,,, pergi adalah  keputusanku.

Aku engga mau terlalu memikirkan berita itu karena bagiku jika terlalu memikirkannya justru akan menjadi bumerang bagi diriku sendiri, boomerang saat disana dan menyusahkan orang lain. Jujur aku engga mau seperti itu, walau begitu berita itu tetap sebagai rambu untuk selalu waspada, waspada dari mara bahaya.

Maka, 06.15 WIB pagi itu aku bergegas untuk berangkat ke sana bersama salah satu kawanku, Mas Ulin Namanya. Beliau kawan ku dimalang dan pernah menimba ilmu bersamaku di saat mondok dulu di Temboro Magetan. Sebelum berangkat kami harus menanti sesuatu yang engga pasti, mungkin ini terkesan tidak mengenakkan tetapi harus dilakukan. Setelah menunggu kamipun akhirnya berangkat menyusuri jalanan Kota Malang menuju pantai idaman. Ketika awal mula menyusuri jalanan hatiku terasa engga enak seperti ada yang mengganjal, mungkin ini terjadi setiap perjalananku. Dalam perjalanan ketika asik nya mengendarai, rasa keraguan itu menghampiriku. "Eh za coba luruskan niat, amalan dulu coba + doa" saut temanku yang mengingatkanku untuk amalan dan doa ditengah2 berkendara menuju ke pantai idaman. Tanpa fikir panjangpun akupun mencoba apa yang dia katakan, beberapa menit kemudian rasa itu berubah menjadi sebuah ketenangan, keyakinan dan semangat, masya Allah, ajibbb....

“Luruskan niat dulu, niat tafakur alam dakhwah dan mengagupi ciptaan Allah dan tawassul ke Gus Yusuf “ saut temanku saat itu,
“la emang napa mas?” pertanyaan penasaran dariku kala itu,
“soal nya beliau itu juga senang tafakur alam, insya Allah” jawab teman ku

Jawaban itu mebuat ku berfikir untuk iut guru insya Allah aman. Memang hal itu membuatku lebih tenang dari pada sebelumnya. Beberapa jam kemudian menikmati adalah hal terbaik dalam beristirahat dan tafakul alam dan kamipun sampai rumah dengan selamat. Alhamdulillah.

 

Doa memiliki power begitu luar biasa, doa menjadi salah satu cara untuk memohon kepada Allah swt dan sarana komunikasi kepadanya.