Aku Belum Siap Kecewa

Sore itu, jantung berdedat begitu cepat. Detak waktu mengiringi detat jantungku. Aku gelisah begitu saja, memikirkan akan pertanyaan yangku buat untukmu. Berulangkali aku mencoba mengetik dan berulangkali juga aku menghapusnya namun, tetap berharap akan bisa mengenalmu dan tahap awal memperkenalkan diriku
”Aku Harus bisa, selagi ada kesempatan awal,”kataku dalam hati. Aku fokuskan konsentrasi perhatianku padamu. Ceriamu mengalahkan segalanya bagiku. Orang-orang mencoba bertanya padamu satu demi satu dan mengutakan mentalku dengan “Ayo, aku bisa jadi yang pertama.”
Kalimat itu sudah aku katakan dan yakinkan padaku lebih dari apapun. Mengenai kegelisahan itu tidak semudah membalikkan tangan. Allah tahu yang terbaik. Tapi manusia tidak tahu segala yang terbaik untukmu tanpa se-izinnya dalam kehidupanmu di masa depan.
Kamu lihat dalam dirimu dengan kegelisahan dan ketakutan namun, kamu lihat sekelilingmu, ada begitu banyak orang yang  percaya diri dengan dirinya. Kataku” ini adalah waktu bagiku, ini adalah kesempatan awal yang belum tentu datang lagi.” Aku berulang kali melihat ke layar putihku, ada beberapa orang yang memberanikan diri. Kataku, “Ya ini waktunya aku harus melakukannya.”
Aku melihat kedepan, aku bayangkan aku sedang bersamanya bersanding disampinya dengan apa yang aku inginkan dengan pakaian yang aku inginkan. Lantas aku lihat ke dalam diriku sendiri , “aku saat ini belum pantas dengannya.”
Saat ini perasaan ketidakpantasan itu dengan sendirinya menari-nari dan menpengaruhi kepalaku karena bagiku aku ini seperti butiran debu yang melayang-layang dengan tujuan yang masih antah berantah. Sedangakan dia sosok yang sudah pantas untuk di kagumi.
Apakah akan selalu seperti itu ?
------------
Namun paginya aku membayangkan sebuah tulisan versiku
“Hei, coba kamu melihat ke atas dan rasakan ! Ada tuhan yang selalu tersenyum pada hambanya dan sedang menggenggam masa depanmu. Kuatkan hatimu, “Ya Allah, aku bermaksud memohon padamu untuk menguatkan hatiku di pilihan yang aku sukai.”
Kamu teringat dengan masa depanmu itu : Jadi hamba Allah di pilihan yang kamu sukai. Kalau pilihan itu benar-benar karena Allah, seharusnya kamu tidak akan kecewa dengan apapun yang akan terjadi. Kalau kamu merasa kecewa, berarti dengan berat hati niatmu salah besar.
Meski kamu merasa sangat besar kemauanmu atas pilihan itu, namun hanya Allah semata yang tau seberapa besar kamu atas pilihanmu. Allah ingin membuktikan seberapa besar dirimu dengan pilihanmu dengan ditempa ujian keadaan yang kamu lalui dengan tidak menyenangkan.
Yakinkan pada dirimu, libatkan Allah atas semua yang kamu lakukan. Cari ridha Allah atas setiap hal yang kamu lakukan dan percayakan padanya karena ia tahu mana yang terbaik buat hambanya.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Sebagai hamba yang taat atas setiap perintah dan larangannya, kamu sebagai manusia biasa yang selalu berbuat dosa hanya bisa berdoa dan tawakkal atasnya.
Sudah kah ?

Temboro, 05 April 2020


Mirza Afrizal